solitude : percaya
selamat pagi sayang
selama beberapa puluh menit saya menimbang-nimbang untuk menuliskanmu dalam bentuk apa pagi ini. puisikah? catatankah? atau hanya lewat foto-foto saja?
selama beberapa puluh menit saya menimbang-nimbang untuk menuliskanmu dengan cara bagaimana.
sampai akhirnya saya putuskan, untuk menyapamu secara gamblang saja, selamat pagi sayang.
pagi ini saya terbangun dengan senyum yang begitu ringan tersungging di wajah.
kamu tahu betapa magis tuhan menganugerahi suaramu dengan kemampuan untuk menenangkan tidur saya, meski hanya sebentar, meski akhirnya harus saya rekam saking sebentarnya, untuk saya putar ulang beberapa kali sampai akhirnya saya benar-benar jatuh tertidur.
kamu tahu sayang, semua ini tidak pernah mudah. saya tahu kamu juga lelah disana. dan kamu perlu banyak hal lain selain saya di sana untuk membantu membuat semuanya terasa lebih mudah dan menyenangkan.
beberapa hari terakhir saya terkejut sendiri melihat reaksi tubuh ini. tentang perubahan-perubahan cara pandang saya ke sms-sms mu, message yang saya baca di fbmu, twittermu. saya merasa tenang-tenang saja, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. padahal saya ingat betul semua ketebelece inilah yang menjadi penyebab pertengkaran kita di tahun-tahun yang lalu. sekarang saya membacanya biasa saja, bahkan bisa ikut tertawa meskipun itu obrolanmu dengan seorang teman perempuan. di titik ini, barulah saya memahami makna memberi kepercayaan yang sesungguhnya, yang ternyata dulu belum dapat saya beri sepenuhnya, yang sebenarnya semua itu balik lagi karena faktor kedewasaan dari masing-masing kita.
ya, saya percaya padamu
dan seperti sewajarnya ikatan sebab akibat yang selalu berjalin dan berbalik kembali pada setiap pelakunya, saya merasa kamupun mengalami perubahan yang searah dengan saya. saya merasa kamu semakin dewasa sekarang. saya merasa kamu tetap jadi dirimu yang itu. saya tahu bahwa saya tahu kamu meskipun juga sedalam apapun yang saya ketahui tentang dirimu saya menyadari bahwa kamu adalah individu yang memiliki ruang untuk dirimu sendiri, bahwa ada ruang yang bukan untuk saya ganggu, bahwa ada ruang yang mungkin bukan untuk saya ketahui isinya sekarang, tapi nanti. saya menghargai itu. saya menghargai setiap upayamu untuk menghargai saya, upayamu untuk menjaga perasaan saya bahwa saya tetap selalu ada di hatimu, di pikiranmu. bahwa saya tetaplah bagian dari prioritasmu, bagian dari mimpi-mimpimu, bagian dari masa depan yang saat ini tengah kamu upayakan.
benar jarak kita jauh. namun di sini, tepat di sini, saya selalu memegangimu dengan tulus. saya tidak lagi mencengkerammu kuat. saya tidak lagi menarik-narikmu untuk sesegera mungkin kembali. berjalanlah sayang, berjalanlah sejauh yang kamu yakin dapat kamu lakukan untuk memastikan pertemuan kita nanti menjadi manis dan manis dan manis. saya menunggumu :')
ohya sayang, ada teman yang kirim ini buat saya kemarin, berarti buat kamu juga :)
semangat ya sayang dalam menjalani ujian2mu, semangat buat kuliah lapangannya, semangat buat amanahnya jadi kepala barak, semangat buat kuliah lapangan mandirinya, semoga nanti kamu tetap bisa puasa meskipun tugas2mu juga berat disana. ohya, di kelompokmu ada temen2 perempuan kan? jagain mereka ya, mereka jauh dari keluarga, mereka punya hak buat kamu - kalian jaga.
hati-hati kalau di jalan, akhir2 ini banyak berita ga enak tentang yang bawa moge.
saya selalu support kamu dari sini, doain kamu dari sini. :*
Komentar
Posting Komentar